Paper Outsourcing

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.   Latar Belakang

Saat ini perusahaan yang bergerak di bidang produksi dan jasa sedang giat mengembangkan pola efisiensi perusahaan. Banyak perlakuan perusahaan berkaitan dengan pengurangan beban atas kerja dan balas jasa pegawainya. Salah satu strategi dan menjadi isu yang berkembang adalah pengenaan kontrak outsorcing pada tenaga kerja sebagai salah satu bentuk strategi keuangan perusahaan yaitu mengurangi beban keuangan dari sisi tenaga kerja. Perusahaan melihat bahwa pengenaan kontrak dan outsourcing cukup untuk memangkas biaya dan pengeluaran perusahaan.

Dilihat dari pandangan kenegaraan  hal ini sangat betrentangan dengan orientasi perlindungan negara terhadap tenaga kerja. Dalam pasal 27(2) UUD 1945 menyatakan bahwa: “Setiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan:. Dari amanat para pendiri Republik dapat kita pahami bahwa tujuan pembangunan ketenagakerjaan adalah menciptakan lapangan pekerjaan bagi warga negara untuk mendapatkan penghidupan yang layak.

UU juga mengatur perlindungan terhadap hak-hak pekerja, antara lain: 1. perlindungan PHK; 2. jamsostek; 3. upah yang layak dan tabungan pensiun. Dalam praktek outsourcing, hak-hak tersebut merupakan sesuatu sangatlah mahal untuk didapat oleh para pekerja outsourcing. Karena status pekerja outsourcing adalah pekerja pada PT.A, tapi harus bekerja pada PT.B dengan waktu kerja: 6 bulan, 1 tahun atau 2 tahun.

Bagaimana posisi outsorcing dan praktik-praktik kerja lainnya yang berkaitan dengan manajemen tenaga kerja dan sistem informasinya, bagaimana sistem informasi tersebut bisa di akses oleh stakeholder akan dibahas dalam tulisan ini dan keseluruhan sistem informasi yang bekerja bersamanya.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Jenis-jenis outsourcing adalah sebagai berikut:

1)  Contracting

Merupakan bentuk penyerahan aktivitas perusahaan pada pihak ketiga yang paling sederhana dan merupakan bentuk yang paling lama. Langkah ini adalah langkah berjangka pendek, hanya mempunyai arti taktis dan bukan merupakan bagian dari strategi (besar) perusahaan tetapi hanya untuk mencari cara yang praktis saja.

2)  Outsourcing

Penyerahan aktivitas perusahaan pada pihak ketiga dengan tujuan untuk mendapatkan kinerja pekerjaan yang profesional dan berkelas dunia. Diperlukan pihak pemberi jasa yang menspesialisasikan dirinya pada jenis pekerjaan atau aktivitas yang akan diserahkan.

Menurut Pasal 1601 b KUH Perdata, outsoucing disamakan dengan perjanjian pemborongan pekerjaan. Sehingga pengertian outsourcing adalah suatu perjanjian dimana pemborong mengikat diri untuk membuat suatu kerja tertentu bagi pihak lain yang memborongkan dengan menerima bayaran tertentu dan pihak yang lain yang memborongkan mengikatkan diri untuk memborongkan pekerjaan kepada pihak pemborong dengan bayaran tertentu

3)  In Sourcing

Kebalikan dari outsourcing, dengan menerima pekerjaan dari perusahaan lain. Motivasi utamanya adalah dengan menjaga tingkat produktivitas dan penggunaan aset secara maksimal agar biaya satuannya dapat ditekan dimana hal ini akan meningkatkan keuntungan perusahaan. Dengan demikian kompetensi utamanya tidak hanya digunakan sendiri tetapi juga dapat digunakan oleh perusahaan lain yang akan meningkatkan keuntungan.

4)  Co-Sourcing

Jenis hubungan pekerjaan dan aktivitas dimana hubungan antara perusahaan dan rekanan lebih erat dari sekedar hubungan outsourcing. Contohnya adalah dengan memperbantukan tenaga ahli pada perusahaan pemberi jasa untuk saling mendukung kegiatan masing-masing perusahaan.

Dari bentuk kontrak diatas outsourcing dapat dikategorikan menjadi 4 macam yang menurut The Computer Sciences Corporation (CSC) Index adalah sebagai berikut:

  • Total outsourcing, outsourcing secara total pada seluruh komponen SI
  • Selective outsourcing, outsorcing hanya pada komponen-komponen tertentu
  • Transitional outsourcing, outsourcing yang fokusnya pada pembuatan sistem baru
  • Transformational outsourcing, outsourcing yang fokusnya pada pembangunan dan  operasional dari sistem baru

Alasan Perusahaan Melakukan Outsourcing

Ada banyak pertimbangan kenapa sebuah perusahaan mengambil outsourcing sebagai strategi untuk operasional SI yang efektif. Selain pertimbangan biaya tentunya, adalah pertimbangan lain yang menjadi faktor pendorong terbesar seperti penyesuaian antara strategi SI dan strategi bisnis perusahaan.

Saat ini misalnya, hanya sedikit perusahaan yang dapat memisahkan antara strategi SI dan strategi bisnisnya. Pada praktiknya dilapangan strategi SI dan strategi bisnis saling berkaitan, dan kemampuan SI dalam banyak kasus menentukan bagaimana strategi bisnis. Adapun ada beberapa alasan sehingga perusahan memiliki untuk melakukan outsourcing, yaitu:

  • Meningkatkan focus bisnis karena telah melimpahkan sebagian operasionalnya kepada pihak lain
  • Membagi resiko operasional Outsourcing membuat resiko operasional perusahaan bisa terbagi kepada pihak lain
  • Sumber daya perusahaan yang ada bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan yang lainnya
  • Mengurangi biaya karena dana yang sebelumnya digunakan untuk investasi bisa difungsikan sebagai biaya operasional
  • Memperkerjakan sumber daya manusia yang berkompeten karena tenaga kerja yang disediakan oleh perusahaan outsourcing adalah tenaga yang sudah terlatih dan kompeten dibidangnya
  • Mekanisme control menjadi lebih baik.

Menurut The 2001 Outsourcing World Summit, ada 6 alasan utama untuk Outsourcing :

2.2. Ketentuan Mengenai Outsourcing

Perjanjian outsourcing dapat disamakaan dengan perjanjian pemborongan pekerjaan. Ketentuan outsourcing di dalam UUK 2003 diatur dalam Pasal 65

Pasal 65:

1.   Penyerahan sebagian pelaksanaan pekerjaan kepada perusahaan lain

2.   Pekerjaan yang dapat diserahkan kepada perusahaan lain sebagaimana

3.  Merupakan kegiatan penunjang perusahaan secara keseluruhan; dan

4. Tidak menghambat proses produksi secara langsung.

Undang-undang yang membahas ketentuan Outsourcing juga dijelaskan pada Pasal 66. Selain itu, ketentuan lain mengenai outsourcing diatur di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata buku ketiga bab 7A bagian eenam  tentang   Perjanjian  Pemborongan  Pekerjaan.

BAB III

PEMBAHASAN

3.1.   Konsep Outsourcing

Bahwa yang di outsource umumnya adalah kegiatan penunjang, sedangkan kegiatan pokok pada umumnya tetap dilakukan oleh perusahaan sendiri.

Kesamaan interpretasi ini penting karena berdasarkan undang-undang ketenagakerjaan outsourcing hanya dibolehkan jika tidak menyangkut core business. Dalam penjelasan pasal 66 UU No.13 tahun 2003, disebutkan bahwa :”Yang dimaksud dengan kegiatan penunjang atau kegiatan yang tidak berhubungan langsung dengan proses produksi adalah kegiatan yang berhubungan di luar usaha pokok suatu perusahaan. Kegiatan tersebut antara lain: usaha pelayanan kebersihan, usaha penyediaan makanan bagi pekerja/buruh catering, usaha tenaga pengaman, usaha jasa penunjang di pertambangan dan perminyakan, serta usaha penyediaan angkutan pekerja/buruh.”

3.2. Perjanjian dalam Outsourcing

Perjanjian kerja antara karyawan outsourcing dengan perusahaan outsourcing biasanya mengikuti jangka waktu perjanjian kerjasama antara perusahaan outsourcing dengan perusahaan pengguna jasa outsourcing. Hal ini dimaksudkan apabila perusahaan pengguna jasa outsourcing hendak mengakhiri kerjasamanya dengan perusahaan outsourcing, maka pada waktu yang bersamaan berakhir pula kontrak kerja antara karyawan dengan perusahaan outsource. Bentuk perjanjian kerja yang lazim digunakan dalam outsourcing adalah Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT). Bentuk perjanjian kerja ini dipandang cukup fleksibel bagi perusahaan pengguna jasa outsourcing, karena lingkup pekerjaannya yang berubah-ubah sesuai dengan perkembangan perusahaan.

Karyawan outsourcing walaupun secara organisasi berada di bawah perusahaan outsourcing, namun pada saat rekruitment, karyawan tersebut harus mendapatkan persetujuan dari pihak perusahaan pengguna outsourcing. Apabila perjanjian kerjasama antara perusahaan outsourcing dengan perusahaan pengguna jasa outsourcing berakhir, maka berakhir juga perjanjian kerja antara perusahaan outsourcing dengan karyawannya.

3.3. Hubungan Hukum antara Karyawan Outsourcing dengan  Perusahaan Pengguna Outsourcing

Dari hubungan kerja ini timbul suatu permasalahan hukum, karyawan outsourcing dalam penempatannya pada perusahaan pengguna outsourcing  harus tunduk pada Peraturan Perusahaan (PP) atau Perjanjian Kerja Bersama (PKB) yang berlaku pada perusahaan pengguna oustourcing tersebut, sementara secara hukum tidak ada hubungan kerja antara keduanya. Ada 5 aspek yang berkaitan dengan hal ini yaitu:

  1. Aspek hukum
  2. Aspek ketergantungan
  3. Aspek keamanan fisik Sistem informasi
  4. Aspek logic sistem informasi
  5. Aspek Sumber daya manusia 

Dari ke lima aspek tersebut ternyata 3 risiko yang sering terjadi jika perusahaan menggunakan outsourcing yaitu:

Keamanan Logika Sistem Informasi (Logical IS Security)

Keamanan yang berhubungan dengan akses yang tidak sah (unauthorized) terhadap sistem informasi organisasi. Ketika organisasi menggunakan outsourcing, maka sejumlah akses terhadap sistem informasinya akan bertambah, dimana pada kondisi tertentu akan mempengaruhi sistem informasi. Lebih jauh lagi organisasi akan kehilangan kontrol terhadap keamanan sistem informasinya. Dalam prosesnya, kemungkinan akan terjadi akses, modifikasi, dan lainnya, yang digunakan oleh outsourcing. Perlu diperhatikan, kemungkinan akses ini akan mencakup data – data yang sangat rahasia dan strategis.

Ketergantungan (Total Dependence/Exit Barriers)

Makin banyak tingkat ketergantungan terhadap perusahaan outsourcing, maka akan menjadi kendala bagi kita. Pada waktu kita mengikat kontrak dengan perusahaan outsourcing, pada dasarnya kita “menyerahkan” semua kontrol atas sistem informasinya. Sebagai akibat dari hal ini, fungsi – fungsi IT tdak dapat dilakukan atau merubah teknologi yang telah dibuat oleh outsourcing, tapi kita melibatkan mereka.  Oleh karena itu, perlu kejelasan dalam kontrak, mengenai exit strategi jika proyek pembangunaan ataupun pengembangan sistem informasi dengan perusahaan outsourcing.

Konsekuensi hukum (Legal Consequences)

Karena kegiatan outsourcing merupakan kerjasama diantara dua pihak, yang secara umum bersifat komersial, maka akan terdapat konsekwensi hukum. Salah satu yang terpenting adalah hak kepemilikan dan hak cipta.  Dengan adanya kerjasama ini, akan menambah kewajiban perusahaan terhadap pihak ketiga, seperti penggunaan lisensi,  Oleh karena itu, perlu sekali dibuat kontrak kerjasama yang jelas diantara kedua belah pihak yang saling menguntungkan.

3.4. Gambaran proses yang terjadi pada pendekatan outsourcing.

Keuntungan dari praktik outsourcing antara lain adalah sebagai berikut:

  • Manajemen SI yang lebih baik, SI dikelola oleh pihak luar yang telah berpengalaman dalam bidangnya, dengan prosedur dan standar operasi yang terus menerus dikembangkan.
  • Fleksibiltas untuk meresponse perubahan SI yang cepat, perubahan arsitektur SI berikut sumberdayanya lebih mudah dilakukan. Biasanya perusahaan outsource sistem informasi pasti memiliki pekerja IT yang kompeten dan memiliki skill yang tinggi, dan juga penerapan teknologi terbaru dapat menjadi competitive advantage bagi perusahaan outsource. Jadi dengan menggunakan outsource, otomatis sistem yang dibangun telah dibundle dengan teknologi yang terbaru.
  • Dapat mengeksploitasi skill dan kepandaian yang berasal dari perusahaan atau organisasi lain dalam mengembangkan produk yang diinginkan.
  • Akses pada pakar SI yang lebih baik.
  • Biaya yang lebih murah. Walaupun biaya untuk mengembangkan sistem secara outsource tergolong mahal, namun jika dibandingkan secara keseluruhan dengan pendekatan insourcing ataupun selfsourcing, outsourcing termasuk pendekatan dengan cost yang rendah.
  • Dapat memprediksi biaya yang dikeluarkan untuk kedepannya.
  • Fokus pada inti bisnis, perusahaan tidak perlu memikirkan bagaimana sistem SI-nya bekerja. Perusahaan dapat lebih fokus pada hal yang lain, karena proyek telah diserahkan pada pihak ketiga untuk dikembangkan.
  • Pengembangan karir yang lebih baik untuk pekerja SI.

3.5. Kelemahan Pengembangan SI melalui Outsourcing

Selain keunggulan diatas, pendekatan outsourcing juga memiliki beberapa kelemahan, kelemahan-kelemahan itu seperti:

–  Permasalahan pada moral karyawan, pada kasus yang sering terjadi, karyawan outsource yang dikirim ke perusahaan akan mengalami persoalan yang penangannya lebih sulit dibandingkan karyawan tetap. Misalnya terjadi kasus-kasus tertentu, karyawan outsource merasa dirinya bukan bagian dari perusahaan pengguna.

–  Kurangnya kontrol perusahaan pengguna terhadap sistem informasi yang dikembangkan dan terkunci oleh penyedia outsourcing melalui perjanjian kontrak.

–  Ketergantungan dengan perusahaan lain yaitu perusahaan pengembang sistem informasi akan terbentuk.

–  Kurangnya perusahaan dalam mengerti teknik sistem informasi agar bisa dikembangkan atau diinovasi di masa mendatang, karena yang mengembangkan tekniknya adalah perusahaan outsource.

–  Jurang antara karyawan tetap dan karyawan outsource.

–  Perubahan dalam gaya manajemen.

–  Proses seleksi kerja yang berbeda.

–  Informasi-informasi yang berhubungan dengan perusahaan kadang diperlukan oleh pihak pengembang aplikasi, dan kadang informasi penting juga perlu diberikan, hal ini akan menjadi ancaman bagi perusahaan bila bertemu dengan pihak pengembang yang nakal.

Penggunaan outsourcing seringkali digunakan sebagai strategi kompetisi perusahaan untuk fokus pada core business-nya. Namun, pada prakteknya outsourcing didorong oleh keinginan perusahaan untuk menekan cost hingga serendah-rendahnya dan mendapatkan keuntungan berlipat ganda walaupun seringkali melanggar etika bisnis

3.6.   Masalah Umum Yang Terjadi Dalam Penggunaan Outsourcing

1. Penentuan partner outsourcing.

Hal ini menjadi sangat krusial karena partner outsourcing harus mengetahui apa yang menjadi kebutuhan perusahaan serta

menjaga hubungan baik dengan partner outsourcing.

2. Perusahaan outsourcing harus berbadan hukum.

Hal ini bertujuan untuk melindungi hak-hak tenaga outsource, sehingga mereka memiliki kepastian hukum.

3. Pelanggaran ketentuan outsourcing.

Demi mengurangi biaya produksi, perusahaan terkadang melanggar ketentuan ketentuan yang berlaku. Akibat yang terjadi

adalah demonstrasi buruh yang menuntut hak-haknya. Hal ini menjadi salah satu perhatian bagi investor asing untuk

mendirikan usaha di Indonesia.

4. Perusahan outsourcing  memotong gaji tenaga kerja tanpa ada batasan sehingga yang mereka terima, berkurang lebih banyak.

Bab IV

Outsourcing dalam Sistem Informasi

4.1.Indikator Keberhasilan Penerapan Sistem Outsourcing

Inti dari faktor-faktor tersebut diatas adalah harus adanya kerjasama dan komitmen yang jelas antara kedua belah pihak agar outsourcing dapat berjalan sebagaimana harapan yang keseluruhan perjanjian kerjasama tersebut dinyatakan secara jelas dan terperinci di dalam kontrak outsourcing.

4.2.Pro dan Kontra Outsourcing dan Insourcing

Keberadaan tenaga kerja berstatus outsorcing pada gilirannya akan melemahkan perjuangan kolektif tenaga kerja melalui serikat tenaga kerja, sebagai elemen pemaksa bagi terpenuhinya hak-hak tenaga kerja. Sebab, tenaga kerja outsourcing bergerak sebagai individu yang mengadakan hubungan kerja dengan perusahaan secara langsung, atau tenaga kerja yang disalurkan oleh lembaga outsourcing ( jasa penyalur tenaga kerja ), kepada perusahaan, para pihak yang terlibat dalam perjanjian dalam hal ini adalah jasa penyalur tenaga kerja dan perusahaan, sementara tenaga kerja outsorcing sendiri berada di bawah kendali jasa penyalur.

Persoalan yang dialami oleh tenaga kerja outsorcing sendiri, bisa disimpulkan :

1.    Tidak ada kejelasan mekanisme dengan siapa tenaga kerja berstatus outsourcing ini harus melakukan perundingan, apakah

dengan pihak yayasan yang menyalurkan, atau dengan perusahaan.

2.   Posisi tenaga kerja berstatus outsorcing ini lemah, sebab tidak  memungkinkan baginya untuk melakukan perundingan bersama,

atau  terlibat dalam serikat tenaga kerja.

Maka dapat disimpulkan, imbas atas keberadaan tenaga kerja berstatus outsourcing, terhadap serikat tenaga kerja, diantaranya:

a.   Melemahnya kekuatan serikat tenaga kerja. Sebagai akibat atas menurunnya jumlah anggota serikat tenaga kerja.

b.   Melemahnya collective bargaining

c.   Melemahnya perlindungan terhadap tenaga kerja, termasuk terhadap hak-hak tenaga kerja.

4.3. Penyelesaian Perselisihan dalam Outsourcing

Dalam hal ini perusahaan outsourcing harus bisa menempatkan diri dan bersikap bijaksana agar bisa mengakomodir kepentingan karyawan, maupun perusahaan pengguna jasa pekerja, mengingat perusahaan pengguna jasa pekerja sebenarnya adalah pihak yang lebih mengetahui keseharian performa karyawan, daripada perusahaan outsource itu sendiri. Ada baiknya perusahaan outsourcing secara berkala mengirim pewakilannya untuk memantau para karyawannya di perusahaan pengguna jasa pekerja sehingga potensi konflik bisa dihindari dan performa kerja karyawan bisa terpantau dengan baik.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1.   Kesimpulan

Karyawan outsourcing selama ditempatkan diperusahaan pengguna jasa outsourcing wajib mentaati ketentuan kerja yang berlaku pada perusahaan outsourcing, dimana hal itu harus dicantumkan dalam perjanjian kerjasama. Mekanisme Penyelesaian perselisihan ketenagakerjaan diselesaikan secara internal antara perusahaan outsourcing dengan perusahaan pengguna jasa outsourcing, dimana perusahaan outsourcing seharusnya mengadakan pertemuan berkala dengan karyawannya untuk membahas masalah-masalah ketenagakerjaan yang terjadi dalam pelaksanaan outsourcing.

5.2.   Saran

  1. Pasal-pasal yang mengatur mengenai outsourcing, harusnya dapat ditinjau kembali dengan diajukan ke Mahkamah Konstitusi untuk dilakukan amandemen,  karena jiwa pasal pasal tersebut tidak sesuai dengan pasal 27 (2) UUD 1945.

Dibuat suatu peraturan pelaksana yang didalamnya menyebutkan secara tegas tentang kualifikasi dari suatu pekerjaan  tambahan/penunjang bagi pekerja/buruh outsourcing.

Daftar Pustaka

ok bagus.

http://bambang-i.blogstudent.mb.ipb.ac.id/2010/07/30/tugas-uat/

Pengembangan software akan menjadi program yang bagus

http://maghleb.blogstudent.mb.ipb.ac.id/2010/07/31/uat-sim/

terima kasih atas artikel yang bermanfaat

http://blog.bestsoftware4download.com/2010/02/find-the-best-outsourcing-information-security/

Outsourcing : Suatu solusi Pengembangan Sistem Informasi Sumber Daya Informasi di Masa Depan, 2008. http://insidewinme.blogspot.com/2008/03/telaah-jurnal-sistem-informasi.html.

Find The Best Outsourcing Information Security, 2010. http://blog.bestsoftware4download.com/2010/02/find-the-best-outsourcing-information-security

IT Outsourcing Update, 2010. http://www.sharingvision.biz/2010/05/03/it-outsourcing-update-2010/

Pemanfaatan IT: “Dilema Outsourcing atau Internal Developmenthttp://www.setiabudi.name/archives/1141/comment-page-1

Self-Sourcing, In-Sourcing, and Out-Sourcing. http://pakpid.wordpress.com/2010/01/05/self-sourcing-in-sourcing-and-out-sourcing/

Apriani, Ita. 2009. Effisiensi dan penghematan biaya melalui IT Outsourcing. http://www.maestroglobal.info/effisiensi-dan-penghematan-biaya-melalui-it-outsourcing/

Lianna, 2010. IT Outsourcing.  http://lianna.blog.binusian.org/2010/01/09/74/

Kurniawan, Eka. 2009. Pentingnya outsourcing bidang teknologi informasi. http://www.ekurniawan.net/artikel-it/pentingnya-outsourcing-bidang-teknologi-informasi-9.html

Outsourcing pengolahan data. http://blog.i-tech.ac.id/zarra/2009/08/10/outsourcing-pengolahan-data/

Strategi Implementasi Sistem Informasi Pada Usaha Kecil dan Menengah. http://sabukhitam.com/blog/topic/internet-marketing/strategi-implementasi-sistem-informasi-pada-usaha-kecil-dan-menengah.html

Yudistira, Yuan “Outsourcing In A Nutshell.” Outsourcing In A Nutshell EzineArticles.com. http://ezinearticles.com/?Outsourcing-­In-­A-­Nutshell&id=1167849

Dengan outsourcing maka Anda akan lebih fokus ke pekerjaan yang Anda kuasai saja. http://adabisnis.com/outsourcing-kan-pekerjaan-anda/

Triatmono, 2007. Best Practice IT Outsourcing…!!!. http://triatmono.wordpress.com/2007/11/28/best-practice-it-outsourcing/#comment-205763

Bacheldor, Beth. 2010. Accenture Lands an Outsourcing Gig from an Offshore Client. http://advice.cio.com/beth_bacheldor/10450/accenture_lands_an_outsourcing_gig_from_an_offshore_client

Hidayat, Filsuf. 2009.  Outsourcing Strategy As A Second Set Of Strategic Choicehttp://hellomycaptain.blogspot.com/2009/10/outsourcing-strategy-as-second-set-of.html

Sharma, Jatin. 2007.  IT Outsourcing -BatterSense strategic Service. http://www.webpronews.com/topnews/2005/09/11/seo-tips-for-blogs-hosted-on-blogger

Some advantages and disadvantages of information technology. http://www.smallbusinessbible.org/advan_disadvan_informationtechnology.html

In-House or Outsourced IT Infrastructure?, 2010.  http://epam-systems.blogspot.com/

VCalabrese , 2010.  Why Managed IT Services are Better. http://www.aiosolutions.com/IT-Blog/

Chopra, Renu. 2010.  Advice on outsourcing and information technology benefits. http://www.theoutsourceblog.com/2010/06/advice-on-outsourcing-and-information-technology-benefits/

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.